KPSIlogo1
Derita yang dialami seorang dengan gangguan jiwa yang dijemput petugas kesehatan ke rumah untuk mendapatkan perawatan di rumah sakit

Proses penjemputan oleh petugas medis dan ambulans ke rumah—yang sering kali harus dilakukan saat terjadi krisis atau kekambuhan akut—merupakan salah satu momen paling krusial, traumatis, dan memilukan dalam perjalanan penyakit gangguan jiwa berat. Ada penderitaan spesifik di titik ini yang sangat jarang dipahami oleh orang luar.



Bagus Utomo, pegiat kesehatan jiwa, ketua KPSI

I. Dari Sisi Orang yang Mengalami Gangguan Jiwa Berat (ODGJ)

  • Rasa Takut yang Luar Biasa dan Disorientasi

Menganggap Kedatangan Petugas sebagai Ancaman: Dalam kondisi psikosis akut (halusinasi atau delusi berat), kehadiran orang asing berseragam, raungan sirine ambulans, dan upaya pengamanan sering kali dipersepsikan sebagai ancaman bahaya nyata, penculikan, atau serangan terhadap keselamatan jiwa mereka.

  • Sensory Overload: Sirine, lampu darurat, dan kerumunan orang memicu kepanikan hebat di saat otak mereka sudah sangat kewalahan memproses stimulus.
  • Pengalaman Pengekangan (Restraint) dan Kehilangan Martabat
  • Kehilangan Otonomi Diri secara Paksa: Harus dipapah, dipegangi secara paksa, atau diikat (restraint) demi keamanan membawa dampak traumatis mendalam. Mereka merasa harkat dan martabat manusianya runtuh seketika dalam hitungan menit.
  • Perasaan Dikhianati: Ketika mereka melihat bahwa keluarga sendiri yang memanggil petugas, timbul rasa dikhianati yang sangat mendalam oleh orang-orang terdekat yang paling mereka percayai.
  • Malu dan Penghakiman di Depan Publik
  • Menjadi "Tontonan" Tetangga: Suara ambulans dan keributan di rumah menarik perhatian lingkungan sekitar. Diarak dari dalam rumah menuju mobil ambulans di bawah tatapan tetangga menciptakan rasa malu dan kebas emosional yang sulit disembuhkan.

II. Dari Sisi Keluarga (Pendamping / Caregiver)

  • Konflik Batin dan Rasa Bersalah yang Meremukkan (Guilt)
  • Dilema Antara Menyelamatkan atau "Menyerahkan" Anggota Keluarga: Keluarga berada di posisi yang amat dilematis. Menghubungi ambulans rasanya seperti mengkhianati atau "menyerahkan" anak, pasangan, atau orang tua sendiri untuk dibawa secara paksa. Rasa bersalah ini sering kali membayangi mereka selama bertahun-tahun.
  • Ketakutan Menghancurkan Kepercayaan: Keluarga tahu bahwa setelah hari itu, hubungan kepercayaan dengan sang penderita mungkin tidak akan pernah sama lagi.
  • Kelelahan Emosional saat Menyaksikan Proses Evakuasi
  • Menyaksikan Penderitaan Orang Terkasih: Melihat anggota keluarga yang dicintai menjerit, menangis, bersikap defensif, atau terikat di dalam ambulans adalah pengalaman yang sangat menyayat hati dan memicu trauma psikologis (secondary trauma) bagi pengasuh.
  • Keputusasaan Sebelum Evakuasi: Keputusan memanggil ambulans biasanya diambil setelah hari-hari penuh krisis (tidak tidur berhari-hari, risiko bahaya fisik, atau kegagalan bujukan secara halus). Keluarga bertindak dari titik kelelahan mental yang berada di ambang batas.
  • Stigma Lingkungan dan Runtuhnya Privasi
  • Terbongkarnya Rahasia Keluarga: Kedatangan ambulans secara tiba-tiba menghancurkan garis batas privasi. Bisik-bisik tetangga, tatapan penuh penghakiman, atau spekulasi negatif dari lingkungan sosial langsung mengisolasi keluarga secara instan.

III. Hal yang Tidak Dipahami oleh Orang Luar

  • Bukan Tindakan "Tega" atau "Jahat": Orang luar sering menilai keluarga "tega" memanggil petugas dan membawa penderita secara paksa. Padahal, tindakan tersebut adalah pilihan terakhir yang sangat menyakitkan demi menjaga keselamatan jiwa penderita dan orang di sekitarnya.
  • Prosedur Medis Darurat, Bukan Penangkapan Kejahatan: Penanganan ini sering dikesankan seperti "penangkapan", padahal secara medis merupakan tindakan evakuasi darurat (emergency psychiatric intervention) saat kapasitas penilaian realitas penderita sedang melumpuh total.
  • Bekas Luka Psikologis Jangka Panjang: Momen penjemputan ambulans bukan sekadar prosedur transpor medis sederhana, melainkan peristiwa traumatis ganda—baik bagi penderita yang merasa kehilangan kebebasan maupun bagi keluarga yang harus menanggung duka serta rasa bersalah mendalam.
  • Proses penjemputan oleh petugas medis dan ambulans ke rumah—yang sering kali harus dilakukan saat terjadi krisis atau kekambuhan akut—merupakan salah satu momen paling krusial, traumatis, dan memilukan dalam perjalanan penyakit gangguan jiwa berat. Ada penderitaan spesifik di titik ini yang sangat jarang dipahami oleh orang luar.