Agus Sila Santosa, Penyintas Dan Pegiat Kesehatan Jiwa di Surakarta
Bagi seorang ODS (Orang dengan Skizofrenia), menjaga kestabilan bukanlah perkara mudah. Obat dari psikiater memang menjadi kunci utama untuk tetap stabil, namun saya belajar bahwa ada satu hal lain yang sangat mendukung, yaitu olahraga.
Olahraga bukan hanya soal menjaga fisik tetap sehat, tetapi juga menyentuh sisi mental dan emosional kita. Penelitian para ahli dari berbagai belahan dunia telah membuktikan bahwa olahraga sederhana, seperti berjalan kaki selama 45 menit, minimal 5 hari dalam seminggu, dapat membawa banyak manfaat: metabolisme tubuh lebih baik, gula darah lebih terkontrol, tekanan darah stabil, risiko diabetes dan obesitas berkurang, suasana hati lebih bahagia, tidur menjadi lebih nyenyak, dan rasa stres serta cemas jauh berkurang.
Bagi saya, semua manfaat itu bukan hanya teori. Saya sendiri sudah merasakannya.
Perjalanan Saya dengan Olahraga
Sejak sebelum pandemi COVID-19, saya mulai rutin berolahraga. Saya membagi waktu dalam sebulan: 15 hari bersepeda dan 15 hari berjalan kaki, minimal 5 hari setiap minggu. Awalnya memang terasa berat, apalagi ketika rasa malas datang. Namun saya memaksa diri untuk konsisten, karena saya tahu hasilnya tidak bisa instan.
Hasilnya luar biasa. Berat badan saya menjadi stabil, tidak mengalami obesitas meski saya rutin minum obat yang terkadang bisa meningkatkan nafsu makan. Malam hari, saya bisa tidur lebih nyenyak dan berkualitas. Pikiran pun terasa lebih tenang, perasaan lebih bahagia. Kalau rasa cemas tiba-tiba muncul, olahraga membantu mengusirnya lebih cepat. Tubuh saya terasa segar, pikiran jernih, dan saya tidak lagi menjadi pemalas.
Bahkan saya merasakan betul bahwa olahraga memperkuat manfaat dari obat psikiater yang saya konsumsi. Obat memang penting, tetapi jika hanya mengandalkan obat tanpa gerak, risiko obesitas dan penyakit lain bisa datang. Obat dan olahraga saling melengkapi: obat menjaga kestabilan mental, olahraga memperkuat kestabilan fisik dan emosional.
Belajar Memulai
Saya tahu, bagi sebagian ODS, memulai olahraga bukan hal yang mudah. Kadang rasa malas, takut, atau tidak percaya diri menjadi hambatan. Karena itu, saya sarankan untuk memulai dengan hal kecil. Tidak perlu langsung satu jam. Cukup 30 menit berjalan kaki di pagi atau sore hari. Jika terasa berat sendirian, ajaklah caregiver atau keluarga untuk menemani.
Kuncinya adalah konsistensi. Jangan fokus pada berat ringannya olahraga, tetapi pada keberlanjutan. Perlahan, tubuh akan terbiasa, pikiran akan lebih tenang, dan semangat hidup akan tumbuh kembali.
Olahraga Sebagai Jembatan
Bagi saya, olahraga bukan sekadar aktivitas fisik. Ia adalah jembatan yang membawa saya menuju hidup yang lebih stabil, lebih sehat, dan lebih bermakna. Dengan tubuh dan pikiran yang lebih segar, saya merasa lebih siap menjalani kehidupan sehari-hari, bahkan untuk mempersiapkan langkah lebih besar—seperti bekerja, melanjutkan kuliah, atau terlibat dalam kegiatan sosial.
Olahraga telah menjadi teman perjalanan saya sebagai ODS. Ia bukan hanya membuat saya sehat, tetapi juga mengajarkan disiplin, kesabaran, dan rasa syukur atas setiap langkah kecil yang bisa saya lakukan setiap hari.
Dan saya percaya, siapapun bisa memulai. Cukup dengan satu langkah kecil hari ini, berjalanlah sebentar, rasakan udara segar, dan biarkan tubuh serta pikiran mendapatkan manfaatnya. Karena kesehatan, kestabilan, dan kebahagiaan bisa dimulai dari hal sederhana: bergerak.