Categories: Stigma Upaya Preventif

Di Hari Kesehatan Jiwa tahun 2014 KPSI bersama Menteri Kesehatan dan perwakilan 6 agama dan kementerian agama menandatangani pernyataan untuk bersama2 berjuang menghapus stigma bahwa gangguan jiwa bukan kurang iman bukan santet bukan gangguan supranatural, bukan aib, bukan azab dan sebagainya. Masalah kesehatan jiwa sama seperti penyakit apapun yang bisa dialami oleh siapa saja dan kapan saja sepanjang daur hidup manusia.

Contohnya di masa kanak2 ada permasalahan tumbuh kembang anak seperti autisme, adhd, slow learner, disleksia, epilepsi dan yang cukup serius seperti down syndrome. Kemudian di masa remaja ke dewasa ada masalah berbagai gangguan jiwa, gangguan kepribadian, depresi pasca melahirkan, dll. Di usia lanjut ada masalah demensia, alzheimer dll.

Kearifan para pemuka agama ini telah mengangkat derajat kemanusiaan ODGJ dan keluarganya yang selama ini terpinggirkan di masyarakat menjadi sama seperti orang lain pada umumnya. Dulu dalam pandangan agama yang sempit ODGJ dan keluarganya dianggap kurang iman. Itu penghinaan paling rendah pada kemanusiaan. Sehingga mereka dikucilkan dan terbuang. Kini dengan pandangan agama yang merangkul dan penuh belas kasih, serta menerima fakta2 ilmiah, maka kita semakin memahami bahwa gangguan jiwa sama seperti penyakit apapun. Seorang yg mengalami gangguan jiwa dan keluarganya adalah orang2 yang sedang menderita. Bahkan penderitaaannya seringkali ekstrim. Karena itu mereka perlu diberikan dukungan penuh kasih dari seluruh umat. Agar mendapat penghiburan atas duka derita ini. Dukungan sosial inilah yang justru meringankan beban sehingga mereka tidak berputus asa atas rahmat Alloh. Mereka merasakan bahwa ujian adalah sarana memperkuat silaturahmi antar warga masyarakat, saling menyayangi dan mengasihi antar umat. Tuhan tidak kejam dan bengis penyiksa manusia, karena di balik duka dan derita ada kasih dan pembelajaran sebagai rahmat.

Masalah kesehatan jiwa bisa kita atasi bila kita semua bekerja sama. Dengan kepedulian dan pandangan penuh cinta kasih sajalah nilai2 agama yang mulia bisa menyejukkan hati kita semua.

Mari kita semua sepakat menghapus stigma kurang iman pada gangguan jiwa. Bila kamu tidak bisa dan tidak mau membantu setidaknya diam dan jangan menyakiti. Kami keluarga2 yang terimbas masalah kesehatan jiwa bisa berjuang sendiri kok untuk bangkit. Gak perlu pertolongan kalian yg merasa paling beriman.

Kalian yang mudah menghakimi ODGJ dan keluarganya sadarlah. Kalian bagian dari batu2 besar yang menghalangi kemajuan penanganan masalah kesehatan jiwa di Indonesia. Batu besar atau bahkan tembok baja suatu saat akan kita hancurkan dengan asam garam kehidupan kami!

Apakah gangguan jiwa disebabkan oleh kurang iman?

Categories: Stigma Upaya Preventif

Di Hari Kesehatan Jiwa tahun 2014 KPSI bersama Menteri Kesehatan dan perwakilan 6 agama dan kementerian agama menandatangani pernyataan untuk bersama2 berjuang menghapus stigma bahwa gangguan jiwa bukan kurang iman bukan santet bukan gangguan supranatural, bukan aib, bukan azab dan sebagainya. Masalah kesehatan jiwa sama seperti penyakit apapun yang bisa dialami oleh siapa saja dan kapan saja sepanjang daur hidup manusia.

Contohnya di masa kanak2 ada permasalahan tumbuh kembang anak seperti autisme, adhd, slow learner, disleksia, epilepsi dan yang cukup serius seperti down syndrome. Kemudian di masa remaja ke dewasa ada masalah berbagai gangguan jiwa, gangguan kepribadian, depresi pasca melahirkan, dll. Di usia lanjut ada masalah demensia, alzheimer dll.

Kearifan para pemuka agama ini telah mengangkat derajat kemanusiaan ODGJ dan keluarganya yang selama ini terpinggirkan di masyarakat menjadi sama seperti orang lain pada umumnya. Dulu dalam pandangan agama yang sempit ODGJ dan keluarganya dianggap kurang iman. Itu penghinaan paling rendah pada kemanusiaan. Sehingga mereka dikucilkan dan terbuang. Kini dengan pandangan agama yang merangkul dan penuh belas kasih, serta menerima fakta2 ilmiah, maka kita semakin memahami bahwa gangguan jiwa sama seperti penyakit apapun. Seorang yg mengalami gangguan jiwa dan keluarganya adalah orang2 yang sedang menderita. Bahkan penderitaaannya seringkali ekstrim. Karena itu mereka perlu diberikan dukungan penuh kasih dari seluruh umat. Agar mendapat penghiburan atas duka derita ini. Dukungan sosial inilah yang justru meringankan beban sehingga mereka tidak berputus asa atas rahmat Alloh. Mereka merasakan bahwa ujian adalah sarana memperkuat silaturahmi antar warga masyarakat, saling menyayangi dan mengasihi antar umat. Tuhan tidak kejam dan bengis penyiksa manusia, karena di balik duka dan derita ada kasih dan pembelajaran sebagai rahmat.

Masalah kesehatan jiwa bisa kita atasi bila kita semua bekerja sama. Dengan kepedulian dan pandangan penuh cinta kasih sajalah nilai2 agama yang mulia bisa menyejukkan hati kita semua.

Mari kita semua sepakat menghapus stigma kurang iman pada gangguan jiwa. Bila kamu tidak bisa dan tidak mau membantu setidaknya diam dan jangan menyakiti. Kami keluarga2 yang terimbas masalah kesehatan jiwa bisa berjuang sendiri kok untuk bangkit. Gak perlu pertolongan kalian yg merasa paling beriman.

Kalian yang mudah menghakimi ODGJ dan keluarganya sadarlah. Kalian bagian dari batu2 besar yang menghalangi kemajuan penanganan masalah kesehatan jiwa di Indonesia. Batu besar atau bahkan tembok baja suatu saat akan kita hancurkan dengan asam garam kehidupan kami!