Sumber stigma pada RS Jiwa
Jaman dulu mengalami gangguan jiwa dianggap aib. Dianggap kurang iman, kurang bersyukur, kurang dekat dengan Tuhan. Tidak ada yg paling hina selain kurang iman. Manusia yg kurang iman dianggap biadab dan derajatnya seperti binatang. (Padahal manusia juga binatang). Akibatnya mereka diusir, dipasung, dikucilkan dan dikumpulkan di penaampungan khusus yg diberi nama asylum. Di seluruh dunia ada tempat seperti asylum ini namun namanya beda2. Intinya merek dipisahkan dari komunitasnya dan digudangka dikumpulkan dengan yang sejenis.
Para relawan, umumnya tokoh agama dan dokter yang mau mengurus tempat seperti itu.. Berbagai masalah kejiwaan bercampur baur dalam penghuni asylum. Di eropa dan ameriK ada yang sampai ribuan isinya. Karena pada saat itu riset kesehatan jiwa masih sangat kurang. Maka kondisi pasien gangguan jiwa sangat memprihatinkan. Banyak kematian atau kekerasan terjadi di dalam Asylum. Hal itulah yang mengakibatkan muncul stigma yang jelek terhadap asylum, yang kemudian di masa depan menjadi Rumah Sakit Jiwa.
Bila kita melihat ke museum kesehatan jiwa di sejumlah negara, bukan hanya tempatnya yang seram. Tapi peralatan buat terapi gangguan jiwa di jaman dahulu juga sangat menyeramkan. Seperti yang saya lihat di Museum Dr Guislain di Belgia dulu. Penggunaan hydroterapi atau terapi air dimana pasien gangguan jiwa dimandiin air dingon subuh2 bukan hanya ada di kalangan orang islam. Di budaya eropa jaman kegelapan dulu pendeta kristen juga melakukannya dengan membuat roda kincir air yg besar dilengkapi tuas pemutar roda di bagian tengah.2 orang pasien gangguan jiwa diikat di roda raksasa itu kemudian roda diputar sehingga pasien gangguan jiwa terendam air seluruh badannya selama beberapa saat. kemudian diputar lagi secara bergantian untuk mencelup pasien yang kedua. Di eropa masa kini hal seperti itu tidak dipakai lagi. Karena tidak ada bukti ilmiah sama sekali memandikan pasien gangguan jiwa tengah malam dengan air dingin akan menyembuhkan pasien. Bahkan cara itu merupakan indikasi tindak kekerasan pada pasien dan beresiko pada keselamatannya. Dan ada resiko pelecehan seksual dan trauma.
Itu sebagian apa yang terjadi di masa lalu di Rs Jiwa sehingga tumbuh stigma buruk tethadap RS jiwa.
RS Jiwa di masa kini dan masa depan
Sejak sitemukannya obat2an gangguan jiwa seperti Chlorpromazin (CPZ) dan Haloperidol, maka terjadi terobosan besar dalam penanganan masalah gangguan jiwa. Ketika CPZ mulai diberikan pada pasien gangguan jiwa, banyak sekali yang merespon dengan baik dan mulai pulih. Sebagian ODGJ yang tinggal di RS bisa pulang ke rumah. Demikian juga setelah ditemukannya haloperidol, makin banyak ODGJ yang bisa pulang ke rumah dan tinggal bersama keluarga. Itulah yang kemudian disebut fenomena :deinstitusionalisasi". Ternyata gangguan jiwa itu sebabnya benar2 multifaktor, yaitu, faktor biologis otak, psikologis, sosial, spiritual. Melalui pengobatan yang memadai, maka neurotransmitter di otak jadi lebih seimbang sehingga ODGJ akhirnya bisa mereda gejala halusinasi dan delusinya dan pulih. Terbukti pula tempat terbaik bagi ODGJ adalah berada di tengah keluarga dan komunitas dimana selama ini ia tumbuh. Itu akan mendukung pemulihan. Tidak perlu lama2 berada di RS Jiwa. Atau tidak perlu lagi dikumpulkan dan dikucilkan di asylum seperti jaman dahulu kala.
Bahkan kini dengan semakin banyak pilihan obat yang semakin canggih, seperti risperidon, risperdal, abilify, invega, seroquel dan lain-lain, maka ODGJ bukan cuma bisa satabil saja, tapi juga bisa mendukung produktifitas kembali. Sehingga ODGJ yang disiplin minum obat sudah tidak bisa dibedakan dengan orang lain pada umumnya. Dia bisa nyaman dengan dirinya, nyaman dengan keluarga, orang lain dan alam sekitar.
Dengan tersedianya obat2an yang baik maka ODGJ penampilannya bersih rapi, bisa disiplin. Tidak hanya bisa berfungsi maksimal di tempat tinggalnya saja, bahkan bisa bekerja sosial buat membantu sesama ciptaan Tuhan. Kondisi ODGJ yang baik memudahkan petugas kesehatan mengatur pasien gangguan jiwa yang sangat banyak di RS dengan lebih baik. Kebersihan RS Jiwa di Indonesia sudah makin banyak yang profesional, bersih, cantik taman2nya, bikin betah baik bagi ODGJ yang rawat inap atau rawat jalan, bahkan juga nyaman bagi pegunjung RS Jiwa.
Sejumlah RS Jiwa yang saya kunjungi, luar biasa indah. Halaman luas, ada bangunan bersejarah sisa masa kolonial belanda, ditambah bangunan baru yang emejing semua. Perawat dan dokter ramah2 dalam membantu pasien dan keluarga. Bahkan pasien nggak perlu ditunggu, keluarga tinggal istirahat di rumah. Pasien dipercayakan ke perawat dan dokter.
Pelayanan administrasi juga responnya sangat bagus, biaya ditanggung BPJS Kesehatan. Semua pelayanan transparan demi menjaga hak petugas kesehatan, pasien dan keluarga. Di masa depan, pemerintah akan terus meningkatkan kualitas layanan ini secara bertahap.
Karena itu jangan lagi kita ikut menyebarkan stigma terhadap RS Jiwa. RS Jiwa dibentuk untuk membantu keluarga dan pasien. Stigma terhadap RS Jiwa mengakibatkan tertundanya perawatan pada ODGJ yang dapat berakibat fatal dalam upaya pemulihannya.
Mari kita semua stop stigma terhadap RS Jiwa. RS Jiwa di Indonesia keren2 kok, bersih, rapi, indah dan pelayanannya profesional. Kalau konsul ke RS Jiwa tidak ada bedanya dengan konsultasi ke RS umum. Dirawat di RS Jiwa tidak perlu lama2, maksimal sebulan saja, selebihnya segera kembali ke keluarga dan komunitas. Komunitas yang mendukung pemulihan adalah yang disebut therapeutic community. Mari kita wujudkan komunitas dimana kita tinggal dan bekerja menjadi komunitas yang terapeutik. Komunitas yang sadar kesehatan jiwa. Bawa ODGJ berobat sedini mungkin ke puskesmas, RSUD atau RS Jiwa terdekat. Kemudian segera kembali ke komunitas sambil tetap berobat rutin, kemudian aktif kembali berkegiatan produktif. RS Jiwa adalah sistem pendukung buat ODGJ dan keluarga pada saat terjadi kondisi kegawat daruratan psikologis.
Salam sehat jiwa