Yang pertama perlu diketahui adalah bahwa diagnosa gangguan kejiwaan hanya dapat dilakukan oleh profesional kesehatan jiwa yaitu psikolog klinis dan psikiater(dokter spesialis kedokteran jiwa). Untuk itu seseorang harus datang ke layanan kesehatan baik puskesmas, RS, RSUD atau RS Jiwa terdekat agar dapat berkonsultasi dengan perawat atau dokter umum di puskesmas, psikolog atau dokter spesialis kedokteran jiwa di RS, RSUD atau RS Jiwa.
Diagnosa gangguan jiwa secara umum atau gangguan skizofrenia tidak dapat dilakukan oleh diri sendiri hanya dengan melakukan pencarian di mesin pencari seperti google. Membaca hasil pencarian dari google dapat membantu kita menyadari bahwa kita ada masalah, kemudian gunakan pengetahuan itu untuk menyadari dan berupaya mencari pertolongan ke petugas kesehatan di puskesmas, RSUD atau RS Jiwa terdekat. Bila kamu belum berani datang sendirian, mintalah bantuan orang yang kamu percaya untuk menemani, khususnya keluarga terdekat.
Setelah berkonsultasi dengan psikiater(dokter spesialis kedokteran jiwa) maka biasanya dokter akan menentukan diagnosa sementara untuk kepentingan klaim pengobatan pada sistem BPJS Kesehatan. Mungkin kita belum merasa ada kemajuan berarti dalam sekali atau dua kali konsultasi. Beberapa bulan di awal terasa lambat perkembangannya. Itu bukan berarti dokter salah melakukan diagnosa. Namun dokter butuh waktu untuk mengumpulkan lebih banyak informasi dari pasien dan keluarga. Mungkin setelah beberapa bulan atau beberapa kali konsultasi, akan lebih besar kemungkinannya menemukan obat yang cocok dan diagnosa yang tepat.
Lalu bagaimana dokter mengenali gejala dan menentukan diagnosa, kok cuma ditanya2 aja kemudian diresepkan obat? Proses itu disebut wawancara psikiatri. Itu salah satu cara dokter mendiagnosa. Psikiater dan psikolog klinis telah dilatih bertahun-tahun untuk menggunakan buku pedoman diagnosis gangguan jiwa untuk membantu proses diagnosa.
Katanya skizofrenia penyakit otak, kok tidak ada tes darah, scan otak dan lain-lain? Gangguan jiwa tertentu memiliki sejumlah gejala yang tampak jelas baik dari kondisi pasien, isi pembicaraan, pikiran, perasaan dan perilakunya. Sehingga melalui wawancara psikiatri saja sudah dapat dikenali cukup baik. Prosedur ini juga lebih murah dibanding harus melakukan scan otak, tes neurotransmitter dll. Di negara maju laboratorium yang menawarkan jasa pengetesan level neurotransmitter sudah banyak. Namun masih terlalu mahal untuk dilakukan.
Saya kutip dari Brain and Behaviour Research Foundation:
"Sejumlah kombinasi faktor2 resiko dapat mendeteksi gejala skizofrenia hingga 80 persen orang muda yang beresiko mengalami penyakit ini. Faktor-faktornya diantaranya adalah mengisolasi diri dan menarik diri dari pergaulan, adanya peningkatan pikiran yang aneh dan kecurigaan berlebihan, serta adanya riwayat keluarga yang mengalami gangguan psikosis. Pada anak muda yang memiliki resiko mengalmi penyakit ini, tahap ini disebut tahap "prodromal" atau fase tidur. Dimana gejala awal sudah mulai terlihat namun belum muncul menjadi gangguan.
Dewasa ini, skizofrenia didiagnosa dengan cara mengenali sejumlah gejala yang muncul dalam periode selama enak bulan. Adanya dua atau lebih gejala, seperti halusinasi, delusi(waham), pembicaraan yang kacau(disorganized speech), perilaku yang tidak teratur atau perilaku katatonik, mesti terlihat jelas dan bertahan setidaknya dalam sebulan penuh. Bisa juga hanya dibutuhkan satu gejala untuk menentukan diagnosis apabila delusi (waham) yang muncul sangat aneh atau bila adanya halusinasi berupa suara yang berkomentar terus-menerus a atas perilaku atau pikiran orang yang mengalaminya atau adanya dua atau lebih suara bercakap-cakap. Kendala dalam hubungan sosial atau masalah dalam pekerjaan juga dapat menjadi pertimbangan diagnosis selama periode 6 bulan.
Para ahli dari berbagai lembaga penelitian berusaha terus-menerus melakukan penelitian untuk mencari penanda biologis, seperti scan otak yang abnorma atau senyawa kimia dalam darah yang dapat membantu mendeteksi dini penyakit dan mempercepat penanganannya. Para ilmuwan juga berusaha memahami mekanisme genetik dan lingkungan yang bergabung menjadi satu kemudian memicu munculnya skizofrenia. Saat ini semakin banyak penelitian mengungkapkan sirkuit kimiawi otak dan struktur otak orang yang mengalami skizofrenia, perangkat diagnostik yanglebih baik serta teknik deteksi dini sangat mungkin dapat dibuat. Ini merupakan hal yang sangat penting bagi penanganan gangguan skizofrenia karena sebagian besar ilmuwan saat ini meyakini bahwa setiap episode gangguan psikotik, mengakibatkan dampak kerusakan pada otak."
Semoga berguna