Dalam dunia psikiatri medis, tidak ada pengelompokan kaku seperti "skizofrenia stadium 1, 2, atau 3" layaknya penyakit fisik seperti kanker. [1]
Namun, tingkat keparahan skizofrenia diukur melalui dua pendekatan utama, yaitu berdasarkan dimensi keparahan gejala saat ini (menurut panduan klinis DSM-5) dan berdasarkan fase perjalanan klinis penyakit tersebut. [2, 3, 4, 5]
1. Tingkat Keparahan Berdasarkan Dimensi Gejala (DSM-5)
Berdasarkan buku panduan diagnosis gangguan mental terbaru (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition atau DSM-5), psikiater mengukur tingkat keparahan pasien menggunakan skala penilaian 5 poin (Skala 0–4) pada setiap dimensi gejala utama: [4, 6]
- Skala 0: Tidak ada gejala.
- Skala 1 (Ringan): Gejala ada tetapi jarang muncul atau tidak terlalu mengganggu fungsi hidup.
- Skala 2 (Sedang): Gejala cukup jelas dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.
- Skala 3 (Berat): Gejala sangat menonjol, terjadi terus-menerus, dan merusak komunikasi serta perilaku.
- Skala 4 (Sangat Berat): Gejala ekstrem yang membuat pasien kehilangan kontak penuh dengan realitas atau berisiko membahayakan diri/orang lain. [3, 4, 6, 7, 8]
Dimensi yang dinilai meliputi gejala positif (halusinasi dan delusi), gejala negatif (afek datar, menarik diri), gejala kognitif (sulit konsentrasi), hingga gejala motorik (katatonia). [3, 4]
2. Tingkat Keparahan Berdasarkan Fase Perjalanan Penyakit
Tingkat keparahan juga bisa dilihat dari tahapan klinis yang sedang dilalui oleh pasien: [9, 10]
| Fase Penyakit | Deskripsi & Tingkat Keparahan Gejala |
|---|---|
| 1. Fase Prodromal | Tahap Awal/Ringan. Gejala psikosis belum penuh. Pasien mulai menarik diri dari sosial, fungsi kerja/akademik menurun, dan emosi mulai tidak stabil. |
| 2. Fase Akut / Aktif | Tahap Parah. Gejala psikotik muncul secara intens secara penuh. Pasien mengalami halusinasi parah, delusi kuat (waham), dan perilaku yang sangat kacau. |
| 3. Fase Residual | Tahap Pemulihan/Kronis. Gejala positif (halusinasi) sudah mereda setelah pengobatan, namun gejala negatif masih tersisa (seperti emosi yang datar dan motivasi yang rendah). |
Setiap penderita skizofrenia memiliki profil tingkat keparahan yang berbeda-beda. Seseorang yang mendapatkan penanganan medis lebih awal (Duration of Untreated Psychosis/DUP yang singkat) cenderung memiliki tingkat keparahan yang lebih terkontrol dan prognosis pemulihan yang jauh lebih baik. [1, 11, 12, 13]
Sumber referensi:
Berikut adalah sumber referensi untuk artikel di atas yang disusun menggunakan format APA Style (Edisi Ke-7). Referensi ini mencakup buku panduan klinis utama serta literatur medis terkini mengenai psikosis dan skizofrenia: [1, 2]
- American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and statistical manual of mental disorders (5th ed.). American Psychiatric Publishing. doi.org
- Fusar-Poli, P., Salazar de Pablo, G., Correll, C. U., Meyer-Lindenberg, A., Millan, M. J., Borgwardt, S., Galderisi, S., Bechdolf, A., Pfennig, A., Kessing, L. V., van Amelsvoort, T., Nieman, D. H., Domschke, K., Dazzan, P., Owen, M. J., Arango, C., Radua, J., Tortelli, A., Davies, C., ... Uhlhaas, P. J. (2020). Prevention of psychosis: Advances in detection, risk assessment, and mechanism-based interventions. The American Journal of Psychiatry, 177(10), 930–945. doi.org
- Kahn, R. S., Sommer, I. E., Murray, R. M., Meyer-Lindenberg, A., Weinberger, D. R., Cannon, T. D., O'Donovan, M., Correll, C. U., Kane, J. M., van Os, J., & Insel, T. R. (2015). Schizophrenia. Nature Reviews Disease Primers, 1, Article 15067. doi.org
- Patel, K. R., Cherian, J., Gohil, K., & Atkinson, D. (2014). Schizophrenia: A review of features, distress, pathogenesis, and neurobiology. Pharmacy and Therapeutics, 39(9), 638–645.
- Yung, A. R., & McGorry, P. D. (1996). The prodromal phase of first-episode psychosis: Past and current conceptualizations. Schizophrenia Bulletin, 22(2), 353–370. doi.org