Stigma pada gangguan jiwa adalah pelabelan, pandangan negatif, atau prasangka masyarakat terhadap seseorang karena kondisi kesehatan mentalnya. Hal ini sering kali berujung pada diskriminasi, pengabaian, dan rasa malu yang membuat penderita menunda mencari pertolongan medis.
Istilah seperti "gila", "kurang waras", dan "kurang seperempat" adalah bentuk stigma publik (stigma negatif) yang sayangnya masih sering dilekatkan oleh masyarakat kepada penyandang disabilitas psikososial atau gangguan jiwa.
Pada penderita skizofrenia, stigma yang sering melekat meliputi:
1.) Dianggap Berbahaya: Stereotip bahwa pengidap skizofrenia selalu agresif, tidak bisa diprediksi, dan berbahaya bagi orang lain.
2.) Dianggap Tidak Dapat Sembuh: Anggapan keliru bahwa penyakit ini adalah kondisi permanen yang membuat penderitanya tidak akan pernah bisa hidup normal atau mandiri.
3.) Kelemahan Mental: Mitos bahwa skizofrenia terjadi akibat kelemahan karakter atau kurangnya iman, bukan sebagai gangguan medis pada otak.
4.) Stigma Diri (Self-Stigma): Penerimaan stereotip negatif oleh penderita itu sendiri, yang akhirnya merasa malu, takut pada diri sendiri, dan mengisolasi diri dari lingkungan.