Oleh: Anto Agus Sugianto, S.Pd., M.HP, Peneliti, Pegiat Kesehatan Jiwa
Depresi dan kecemasan merupakan masalah kesehatan mental yang dapat dialami siapa saja. Namun, ketika seseorang mulai kehilangan semangat, terus-menerus merasa sedih, sulit tidur, tidak lagi menikmati aktivitas yang sebelumnya disukai, atau mengalami kekhawatiran berlebihan, tidak semua orang menyadari bahwa kondisi tersebut mungkin membutuhkan pertolongan.
Salah satu masalah utama adalah rendahnya literasi kesehatan mental. Gejala depresi sering dianggap sebagai kurang bersyukur, terlalu banyak berpikir, lemah menghadapi masalah, atau kurang mendekatkan diri kepada Tuhan. Demikian pula, orang yang mengalami kecemasan berat mungkin hanya dianggap terlalu khawatir atau tidak mampu mengendalikan pikirannya.
Akibatnya, banyak orang menunda mencari pertolongan profesional.
Penelitian menunjukkan bahwa stigma merupakan salah satu hambatan penting dalam mencari pertolongan kesehatan mental. Tinjauan sistematis yang dipublikasikan dalam Psychological Medicine menemukan bahwa stigma memiliki dampak nyata terhadap keputusan seseorang untuk mencari bantuan. Kekhawatiran akan penilaian orang lain, rasa malu, dan keinginan menyembunyikan masalah dapat membuat seseorang menjauh dari pelayanan kesehatan mental.
Masalah ini menjadi semakin penting di negara berpendapatan rendah dan menengah. Kajian mengenai stigma kesehatan mental menunjukkan bahwa stigma masih berperan dalam besarnya kesenjangan antara orang yang membutuhkan pelayanan dan mereka yang benar-benar mendapatkannya. ([PubMed Central (PMC)][1])
Di Indonesia, persoalannya lebih kompleks. Penelitian Munira dan kolega yang diterbitkan dalam BMC Health Services Research menemukan berbagai hambatan dalam mengakses pelayanan kesehatan mental, termasuk kurangnya pengetahuan mengenai kesehatan mental, stigma, persoalan ekonomi, keterbatasan layanan, serta faktor budaya dan sosial. ([PubMed Central (PMC)][2])
Ketika masyarakat tidak memahami gejala depresi dan kecemasan, mereka akan mencoba menjelaskan penderitaan tersebut menggunakan pengetahuan yang tersedia di lingkungan mereka. Ada yang menganggapnya sebagai persoalan spiritual atau gangguan supranatural sehingga memilih mendatangi pengobatan tradisional atau dukun terlebih dahulu. Tinjauan sistematis mengenai perilaku mencari pertolongan di negara berpendapatan rendah dan menengah juga menunjukkan bahwa kepercayaan budaya, stigma, pengetahuan tentang kesehatan mental, dan keberadaan penyembuh tradisional dapat memengaruhi jalur seseorang menuju pelayanan profesional. ([ScienceDirect][3])
Namun, kita juga perlu berhati-hati agar tidak mempertentangkan agama dengan kesehatan mental.
Berdoa, beribadah, berbicara dengan tokoh agama, keluarga, atau orang yang dipercaya dapat memberikan ketenangan dan dukungan. Bagi banyak orang, spiritualitas merupakan sumber kekuatan yang penting. Masalah muncul ketika seseorang yang sedang mengalami depresi hanya diberi nasihat, "Kamu kurang bersyukur" atau "Berdoa saja," sementara gejalanya semakin berat.
Seseorang dapat berdoa sekaligus berkonsultasi dengan psikolog. Seseorang dapat menjalankan ibadah sekaligus mendapatkan pemeriksaan dari psikiater. Keduanya tidak harus dipertentangkan.
Hal yang sama berlaku untuk pengobatan tradisional. Menghormati budaya masyarakat penting, tetapi seseorang yang mengalami gejala depresi atau kecemasan tetap perlu memiliki akses terhadap pemeriksaan dan intervensi yang memiliki dasar ilmiah. Bukti mengenai efektivitas penyembuh tradisional untuk gangguan mental masih terbatas dan beragam, sehingga praktik tersebut tidak semestinya menggantikan pelayanan profesional ketika seseorang membutuhkan asesmen dan pengobatan.
Karena itu, masyarakat perlu mulai mengenali tanda-tandanya. Kesedihan berkepanjangan, kehilangan minat, kelelahan, gangguan tidur, sulit berkonsentrasi, perasaan tidak berharga, kekhawatiran yang sulit dikendalikan, ketegangan terus-menerus, atau gejala yang mulai mengganggu pekerjaan, sekolah, hubungan sosial dan kehidupan sehari-hari tidak seharusnya selalu dianggap persoalan biasa.
Mencari pertolongan bukan berarti seseorang lemah.
Psikolog dan psikiater memang memiliki peran yang berbeda, tetapi keduanya dapat menjadi bagian dari sistem pertolongan. Puskesmas dan dokter umum juga dapat menjadi pintu masuk untuk mendapatkan pemeriksaan dan rujukan yang tepat. Dukungan keluarga, teman, komunitas, konselor sebaya dan tokoh agama dapat melengkapi pelayanan profesional, bukan menggantikannya.
Yang perlu kita ubah adalah cara masyarakat merespons orang yang sedang mengalami kesulitan. Daripada mengatakan, "Kurang bersyukur," lebih baik bertanya, "Apa yang sedang kamu alami dan bantuan seperti apa yang kamu butuhkan?"
Depresi dan kecemasan bukan kegagalan moral, kelemahan karakter, atau ukuran keimanan seseorang. Semakin cepat seseorang memahami apa yang sedang dialaminya dan mendapatkan pertolongan yang sesuai, semakin terbuka pula kesempatan untuk pulih dan menjalani kehidupan yang bermakna.
Referensi pilihan
Clement, S., et al. (2015). What is the impact of mental health-related stigma on help-seeking? A systematic review of quantitative and qualitative studies. Psychological Medicine, 45(1), 11–27.
Munira, L., et al. (2023). Barriers and facilitators to access mental health services among people with mental disorders in Indonesia. BMC Health Services Research. ([PubMed Central (PMC)][2])
Naslund, J. A., et al. (2022). Addressing mental health stigma in low-income and middle-income countries: a new frontier for digital mental health. ([PubMed Central (PMC)][1])
von Gaudecker, J. R., et al. (2022). Barriers and facilitators to treatment seeking behaviors for depression, epilepsy, and schizophrenia in low- and middle-income countries: A systematic review. ([ScienceDirect][3])