KPSIlogo1

Keyakinan umum di tengah masyarakat bahwa dengan segera dinikahkan atau istilah awamnya dikawinkan maka Orang Dengan Gangguan Jiwa bisa sembuh total. Keyakinan seperti ini tidak hanya ada di Indonesia, di sejumlah negara juga ada.

Namun pada kenyataannya tidak semudah dan seindah itu. Menikah pada orang yang tidak mengalami masalah kejiwaan pun tidak mudah. Apalagi pada orang yang mengalami gangguan jiwa berat seperti skizofrenia.

Mengutip artikel jurnal Medical Science Volume 24, Issue 104, July - August, 2020 tulisan Prakas Behere et al. yang berjudul Is Marriage Solution for Persons with Schizophrenia? mengungkapkan bahwa dari 80 subyek penelitian yang semuanya orang dengan skizofrenia yang menikah dengan dijodohkan serta sebagian memberitahukan kondisi penyakit pada keluarga besan atau pasangannya, maka

Terjadi peningkatan frekuensi kekambuhan pada pasien laki-laki yangmemiliki penghasilan per kapita rendah, pendidikan rendah dan memiliki riwayat keluarga yang mengalami gangguan kejiwaan. Sebagian besar bercerai dalam 2 tahun pernikahan terjadi pada pasien perempuan. Pasien skizofrenia paranoid memiliki tingkat perceraian lebih rendah daripada pasien yang mengalami skizofrenia tipe lainnya. Dan memiliki anak merupakan faktor kuat untuk mempertahankan pernikahan. Kesimpulan penelitian ini adalah bahwa tekanan psikologis dalam adaptasi kehidupan pernikahan dapat memperburuk kondisi kejiwaan pasien skizofrenia.

Dalam pengalaman saya membangun komunitas peduli skizofrenia Indonesia, menikahkan orang dengan skizofrenia tidak akan menyembuhkan gejala skizofrenia yang dialaminya. Pemulihan skizofrenia seyogyanya dilakukan dengan membawa pasien berkonsultasi dengan dokter spesialis kesehatan jiwa atau disebut psikiater. Kemudian menekuni pengobatan medis yang diberikan. Setelah berangsur-angsur pulih, berikanlah dukungan psikososial yang baik agar kemampuan basic life skill(kemampuan hidup standar), social skill (kemampuan bersosialisasi) dan kemudian memupuk minat dan bakat untuk bisa bekerja (living skill). Setelah itu peluang untuk menemukan pasangan hidup serta menikah akan lebih terbuka.

Menemukan pasangan yang tepat, mencintai, menerima kita apa adanya dan mau saling bekerja sama saling mengisi sungguh tidak mudah bagi setiap orang, demikian juga bagi Orang Dengan Gangguan Jiwa. Sebagai orang dewasa, mereka sudah butuh pasangan atau memiliki keinginan menikah, namun sayangnya sebagian besar tidak bekerja atau bahkan ada yang keluar rumah pun belum berani. Boro-boro nyari jodoh, ketemu orang lainpun masih belum mampu. Ini menyulitkan bagi caregivernya.

Pada sebagian budaya Indonesia, kemudian ditempuh upaya perjodohan yang diatur oleh keluarga. Hal ini di sisi lainnya dapat dianggap mengambil alih hak pasien untuk menentukan pilihan hidupnya sendiri. Namun apa boleh buat, karena caregiver kadangkala jenuh mendengar keluhan ODGJ ingin menikah. Para caregiver mungkin mengharapkan bahwa pernikahan menjadi jalan keluar dari beban jangka panjang mereka, setelah menikah ODGJ menjadi tanggung jawab pasangannya.

Meski demikian saya juga menemukan bahwa bila ODS/ODGJ mendapat pasangan yang sungguh mencintai dan berjiwa pelayanan, maka pernikahan tersebut dapat membantu pemulihan bagi ODGJ. Apalagi bila sejak awal pasangannya diberitahu tentang kondisi kesehatan fisik dan jiwa ODGJ dan diberikan panduan bagaimana mendampingi yang baik. Kemudian keluarga besar senantiasa memberikan dukungan, tidak lepas tangan.

Berikut ini sejumlah hal yang perlu menjadi pertimbangan bila ODS/ODGJ ingin menikah:

  • Tekun berkonsultasi ke psikiater dan psikolog serta rutin minum obat sesuai petunjuk dokter
  • Sudah pulih dan cukup mandiri baik secara pribadi, sosial dan finansial.
  • Menemukan pasangan yang mendukung pengobatan medis serta psikososial
  • Pasangan yang menerima kondisi kejiwaan ODS/ODGJ dan berjiwa pelayanan sehingga dapat merawat pasangan dengan ikhlas dan cinta kasih
  • Dukungan berkesinambungan dari keluarga besar ODS/ODGJ dan keluarga mertua
  • Berkonsultasi segera dengan psikolog apabila ada masalah dalam pernikahan
  • Disarankan untuk menghindari menikah dengan sesama ODGJ agar mengurangi resiko kesulitan dalam kehidupan perkawinan maupun resiko menurunnya penyakit
  • Memiliki pekerjaan dan usaha yang baik
  • Dukungan sosial dari lingkungan kerja dan tempat tinggal.
  • Terdaftar sebagai anggota BPJS Kesehatan agar ada jaminan kesehatan. Terdaftar dalam DTKS (Data Terpadu Kesejahteraan Sosial) agar mendapat bantuan sosial dari pemerintah bila membutuhkan.
  • Pertimbangkan bahwa menikah bukan sekedar menyalurkan kebutuhan biologis, tapi juga tanggung jawab membina keluarga baik secara ekonomi dan yang terpenting adalah menjamin hak anak untuk hidup yang baik. Bila belum siap, sebaiknya dipersiapkan dulu ya.

Stigma pada gangguan jiwa adalah pelabelan, pandangan negatif, atau prasangka masyarakat terhadap seseorang karena kondisi kesehatan mentalnya. Hal ini sering kali berujung pada diskriminasi, pengabaian, dan rasa malu yang membuat penderita menunda mencari pertolongan medis.

Istilah seperti "gila", "kurang waras", dan "kurang seperempat" adalah bentuk stigma publik (stigma negatif) yang sayangnya masih sering dilekatkan oleh masyarakat kepada penyandang disabilitas psikososial atau gangguan jiwa.

Pada penderita skizofrenia, stigma yang sering melekat meliputi:

1.) Dianggap Berbahaya: Stereotip bahwa pengidap skizofrenia selalu agresif, tidak bisa diprediksi, dan berbahaya bagi orang lain.

2.) Dianggap Tidak Dapat Sembuh: Anggapan keliru bahwa penyakit ini adalah kondisi permanen yang membuat penderitanya tidak akan pernah bisa hidup normal atau mandiri.

3.) Kelemahan Mental: Mitos bahwa skizofrenia terjadi akibat kelemahan karakter atau kurangnya iman, bukan sebagai gangguan medis pada otak.

4.) Stigma Diri (Self-Stigma): Penerimaan stereotip negatif oleh penderita itu sendiri, yang akhirnya merasa malu, takut pada diri sendiri, dan mengisolasi diri dari lingkungan.

Tidak selalu. Obat skizofrenia dapat diresepkan untuk mengobati gejala-gejala tertentu, seperti halusinasi, delusi, atau gangguan pikir, yang juga dapat terjadi pada kondisi lain.

Beberapa kemungkinan alasan dokter meresepkan obat skizofrenia:

1. Skizofrenia: Obat antipsikotik dapat membantu mengurangi gejala-gejala skizofrenia, seperti halusinasi dan delusi.

2. Gangguan bipolar: Obat antipsikotik dapat digunakan untuk mengobati episode manik atau depresif pada gangguan bipolar.

3. Gangguan psikotik lainnya: Obat antipsikotik dapat digunakan untuk mengobati gejala-gejala psikotik pada kondisi lain, seperti gangguan stres pasca-trauma atau gangguan kepribadian.

Jika dokter meresepkan obat skizofrenia, penting untuk:

1. Mengikuti instruksi dokter: Minum obat sesuai dengan dosis dan jadwal yang ditentukan.

2. Mengkomunikasikan dengan dokter: Beritahu dokter tentang gejala-gejala, efek sampingan, atau kekhawatiran yang Anda alami.

3. Mengikuti evaluasi lanjutan: Dokter akan memantau kemajuan Anda dan menyesuaikan pengobatan jika perlu.

Jangan berhenti minum obat tanpa berkonsultasi dengan dokter, karena ini dapat menyebabkan gejala-gejala memburuk atau efek sampingan yang tidak diinginkan. Jika Anda memiliki pertanyaan atau kekhawatiran tentang diagnosis atau pengobatan, diskusikan dengan dokter Anda

Categories: Stigma Upaya Preventif

Di Hari Kesehatan Jiwa tahun 2014 KPSI bersama Menteri Kesehatan dan perwakilan 6 agama dan kementerian agama menandatangani pernyataan untuk bersama2 berjuang menghapus stigma bahwa gangguan jiwa bukan kurang iman bukan santet bukan gangguan supranatural, bukan aib, bukan azab dan sebagainya. Masalah kesehatan jiwa sama seperti penyakit apapun yang bisa dialami oleh siapa saja dan kapan saja sepanjang daur hidup manusia.

Contohnya di masa kanak2 ada permasalahan tumbuh kembang anak seperti autisme, adhd, slow learner, disleksia, epilepsi dan yang cukup serius seperti down syndrome. Kemudian di masa remaja ke dewasa ada masalah berbagai gangguan jiwa, gangguan kepribadian, depresi pasca melahirkan, dll. Di usia lanjut ada masalah demensia, alzheimer dll.

Kearifan para pemuka agama ini telah mengangkat derajat kemanusiaan ODGJ dan keluarganya yang selama ini terpinggirkan di masyarakat menjadi sama seperti orang lain pada umumnya. Dulu dalam pandangan agama yang sempit ODGJ dan keluarganya dianggap kurang iman. Itu penghinaan paling rendah pada kemanusiaan. Sehingga mereka dikucilkan dan terbuang. Kini dengan pandangan agama yang merangkul dan penuh belas kasih, serta menerima fakta2 ilmiah, maka kita semakin memahami bahwa gangguan jiwa sama seperti penyakit apapun. Seorang yg mengalami gangguan jiwa dan keluarganya adalah orang2 yang sedang menderita. Bahkan penderitaaannya seringkali ekstrim. Karena itu mereka perlu diberikan dukungan penuh kasih dari seluruh umat. Agar mendapat penghiburan atas duka derita ini. Dukungan sosial inilah yang justru meringankan beban sehingga mereka tidak berputus asa atas rahmat Alloh. Mereka merasakan bahwa ujian adalah sarana memperkuat silaturahmi antar warga masyarakat, saling menyayangi dan mengasihi antar umat. Tuhan tidak kejam dan bengis penyiksa manusia, karena di balik duka dan derita ada kasih dan pembelajaran sebagai rahmat.

Masalah kesehatan jiwa bisa kita atasi bila kita semua bekerja sama. Dengan kepedulian dan pandangan penuh cinta kasih sajalah nilai2 agama yang mulia bisa menyejukkan hati kita semua.

Mari kita semua sepakat menghapus stigma kurang iman pada gangguan jiwa. Bila kamu tidak bisa dan tidak mau membantu setidaknya diam dan jangan menyakiti. Kami keluarga2 yang terimbas masalah kesehatan jiwa bisa berjuang sendiri kok untuk bangkit. Gak perlu pertolongan kalian yg merasa paling beriman.

Kalian yang mudah menghakimi ODGJ dan keluarganya sadarlah. Kalian bagian dari batu2 besar yang menghalangi kemajuan penanganan masalah kesehatan jiwa di Indonesia. Batu besar atau bahkan tembok baja suatu saat akan kita hancurkan dengan asam garam kehidupan kami!

Category: Stigma

Tidak benar. Itu salah satu kesalahan pahaman masyarakat awam terhadap gangguan skizofrenia. Dulu gangguan jiwa merupakan permasalahan yang dianggap aib sehingga orang enggan membahas secara terbuka. Sehingga banyak mitos yang dikaitkan dengan gangguan skizofrenia. Umumnya dikaitkan dengan hal-hal yang gaib dan supranatural. Karena secara fisik orang yang mengalami gangguan jiwa tubuhnya lengkap dan sehat, namun berbicara dan bersikap aneh.

Salah satu prasangka awam terhadap skizofrenia adalah karena ngelmu gaib tanpa ada gurunya. Hal ini sangat diyakini oleh masyarakat. Kadangkala ketika dibawa berobat ke dukun atau tokoh agama, dikatakan bahwa orang yang gangguan jiwa ini sedang menanggung suatu ilmu yang berat, sehingga pemikiran nya jadi linglung. Tapi nanti setelah ia sembuh, ia akan berbakat menjadi dukun atau orang pintar.

Pada kenyataannya tidak demikian. Gangguan skizofrenia adalah gangguan otak yang dapat diobati sampai pulih. Orang yang mengalami nya dapat hidup mandiri dan kualitas hidupnya baik kembali.

Lalu apa sebabnya orang menyimpulkan bahwa penyakit ini karena ngelmu gaib? Gangguan skizofrenia tidak muncul secara tiba-tiba. Ada hipotesis yang mengatakan kemungkinan gangguan otak sudah terjadi di level janin, ada resiko genetik, dan kontribusi faktor lingkungan keluarga, masyarakat, budaya dan lainnya.

Besar kemungkinan ketika seseorang tertarik pada hal-hal gaib, sesungguhnya sudah mulai terjadi gejala-gejala awal gangguan kejiwaan pada dirinya. Namun adanya faktor budaya di masyarakat yang meyakini hal-hal gaib, membuat nya mencari solusi melalui cara yang tidak rasional. Orang yang sehat jiwa tentu mengutamakan logika rasional untuk menyelesaikan masalah kehidupan nya, setelah berusaha barulah berdoa. Namun pada orang yang sudah memiliki gejala skizofrenia, justru upaya yang tidak rasional yang lebih banyak dilakukan. Ketika kemudian semakin berat gejalanya, maka minatnya terhadap hal gaib semakin besar, dan pada akhirnya putus dari realitas. Orang yang demen banget mikirin hal-hal gaib kemungkinan mengalami gangguan kepribadian skizotipal.

Demikian juga pada orang dengan skizofrenia yang mengalami waham keagamaan. Minatnya terhadap hal-hal terkait agama menjadi sangat ekstrim, hingga ia meninggalkan kehidupan sosial yang sewajarnya.

Artinya gangguan skizofrenia tidak disebabkan oleh ngelmu tanpa guru. Tapi ngelmu tanpa guru itu sebenarnya bagian dari gejala awal terbentuknya gangguan jiwa berat. Demikian juga meningkatnya minat belajar agama yang berlebihan secara ekstrim belum tentu tanda meningkatnya spiritualitas seseorang, bisa juga merupakan ciri awal munculnya gangguan jiwa berat.

Penting bagi keluarga untuk memahami hal ini agar bisa mendampingi ODGJ dengan baik.

- Anosognosia, dampak kerusakan otak sehingga dia nggak sadar dirinya sakit dan sudah mengalami perubahan pikir, emosi dan perilaku. Nggak menyadari dirinya sudah terhanyut oleh gejala gangguan jiwa

- Mengalami efek samping obat yg tidak nyaman di awal pengobatan. Atau efek lanjutan misalnya kejang, mata kebalik, terganggu haidnya.

- Waham merasa takut mati kalau minum obat dari psikiater

- Karena stigma gila

- Karena stigma pada obat2an psikiatri yang selalu dibilang obat kimia merusak ginjal dan liver, bikin kecanduan dan ketergantungan. Padahal itu cuma akibat prasangka dan kurang pengetahuan.

- Stigma pada profesi psikolog dan psikiater,

- Stigma pada RS Jiwa.

- Karena waham curiga takut mau diracun

- Karena gejala mania, merasa dirinya sangat sehat sehingga nggak mau berobat atau nggak mau minum obat

- Karena waham keagamaan, merasa bahwa gangguan jiwa solusinya adalah mendekatkan diri pada Tuhan, belajar agama, minta dimasukkan ke pesantren. Stigma lemah iman dkk.

- Kurang edukasi bahwa gangguan jiwa adalah disebabkan oleh gangguan otak yg perlu mendapatkan pengobatan dan terapi pendukung lainnya.

- Pengaruh lingkungan yg minimal pengetahuan kesehatan jiwanya sehingga selalu mempermalukan orang yang berobat ke psikiater, ke RS Jiwa, dan...

- Minum obat psikiatri dianggap suatu kelemahan. Dianggap belum sembuh. Dianggap gila.

- Bosan minum obat

- Merasa sudah sembuh jadi nggak butuh minum obat lagi.

- Mengalami efek samping obat syndrom metabolik yg bikin gemuk atau perut buncit sehingga nggak ganteng atau cantik lagi seperti dulu waktu masih langsing.

- Tidak mau dianggap sebagai orang sakit terus oleh keluarga dan lingkungannya

- Sebagai perlawanan terhadap Ortu yang dominan atau otoriter. Dulu sebelum sakit sudah diatur2 dan ditekan oleh ortu. Saat sakit masih ditekan dan dipaksa2 lagi tanpa diajak bicara yg enak agar bisa memahami pentingnya pengobatan.

Selain anosognosia dan efek samping obat yang memang disebabkan oleh sebab biologis otak, sehingga solusinya ya pengobatannya disesuaikan. Sebab yang selebihnya umumnya disebabkan oleh stigma dan kurangnya pengetahuan. Oleh karena itu kita semua bisa mengubahnya dengan edukasi yang seluas2nya kepada masyarakat di seluruh Indonesia. Baik pada ODGJ dan keluarganya, juga pada masyarakat yang masih sehat. Agar bila ada yang merasa mengalami masalah kesehatan jiwa bisa segera mau konsultasi ke dokter umum di puskesmas, ke perawat kesehatan jiwa, ke psikolog dan psikiater. Gak perlu malu konsultasi ke profesional kesehatan jiwa. Nggak perlu malu atau takut minum obat psikiatri asalkan sesuai petunjuk psikiater.

Category: Stigma

Sumber stigma pada RS Jiwa

Jaman dulu mengalami gangguan jiwa dianggap aib. Dianggap kurang iman, kurang bersyukur, kurang dekat dengan Tuhan. Tidak ada yg paling hina selain kurang iman. Manusia yg kurang iman dianggap biadab dan derajatnya seperti binatang. (Padahal manusia juga binatang). Akibatnya mereka diusir, dipasung, dikucilkan dan dikumpulkan di penaampungan khusus yg diberi nama asylum. Di seluruh dunia ada tempat seperti asylum ini namun namanya beda2. Intinya merek dipisahkan dari komunitasnya dan digudangka dikumpulkan dengan yang sejenis.

Para relawan, umumnya tokoh agama dan dokter yang mau mengurus tempat seperti itu.. Berbagai masalah kejiwaan bercampur baur dalam penghuni asylum. Di eropa dan ameriK ada yang sampai ribuan isinya. Karena pada saat itu riset kesehatan jiwa masih sangat kurang. Maka kondisi pasien gangguan jiwa sangat memprihatinkan. Banyak kematian atau kekerasan terjadi di dalam Asylum. Hal itulah yang mengakibatkan muncul stigma yang jelek terhadap asylum, yang kemudian di masa depan menjadi Rumah Sakit Jiwa.

Bila kita melihat ke museum kesehatan jiwa di sejumlah negara, bukan hanya tempatnya yang seram. Tapi peralatan buat terapi gangguan jiwa di jaman dahulu juga sangat menyeramkan. Seperti yang saya lihat di Museum Dr Guislain di Belgia dulu. Penggunaan hydroterapi atau terapi air dimana pasien gangguan jiwa dimandiin air dingon subuh2 bukan hanya ada di kalangan orang islam. Di budaya eropa jaman kegelapan dulu pendeta kristen juga melakukannya dengan membuat roda kincir air yg besar dilengkapi tuas pemutar roda di bagian tengah.2 orang pasien gangguan jiwa diikat di roda raksasa itu kemudian roda diputar sehingga pasien gangguan jiwa terendam air seluruh badannya selama beberapa saat. kemudian diputar lagi secara bergantian untuk mencelup pasien yang kedua. Di eropa masa kini hal seperti itu tidak dipakai lagi. Karena tidak ada bukti ilmiah sama sekali memandikan pasien gangguan jiwa tengah malam dengan air dingin akan menyembuhkan pasien. Bahkan cara itu merupakan indikasi tindak kekerasan pada pasien dan beresiko pada keselamatannya. Dan ada resiko pelecehan seksual dan trauma.

Itu sebagian apa yang terjadi di masa lalu di Rs Jiwa sehingga tumbuh stigma buruk tethadap RS jiwa.

RS Jiwa di masa kini dan masa depan

Sejak sitemukannya obat2an gangguan jiwa seperti Chlorpromazin (CPZ) dan Haloperidol, maka terjadi terobosan besar dalam penanganan masalah gangguan jiwa. Ketika CPZ mulai diberikan pada pasien gangguan jiwa, banyak sekali yang merespon dengan baik dan mulai pulih. Sebagian ODGJ yang tinggal di RS bisa pulang ke rumah. Demikian juga setelah ditemukannya haloperidol, makin banyak ODGJ yang bisa pulang ke rumah dan tinggal bersama keluarga. Itulah yang kemudian disebut fenomena :deinstitusionalisasi". Ternyata gangguan jiwa itu sebabnya benar2 multifaktor, yaitu, faktor biologis otak, psikologis, sosial, spiritual. Melalui pengobatan yang memadai, maka neurotransmitter di otak jadi lebih seimbang sehingga ODGJ akhirnya bisa mereda gejala halusinasi dan delusinya dan pulih. Terbukti pula tempat terbaik bagi ODGJ adalah berada di tengah keluarga dan komunitas dimana selama ini ia tumbuh. Itu akan mendukung pemulihan. Tidak perlu lama2 berada di RS Jiwa. Atau tidak perlu lagi dikumpulkan dan dikucilkan di asylum seperti jaman dahulu kala.

Bahkan kini dengan semakin banyak pilihan obat yang semakin canggih, seperti risperidon, risperdal, abilify, invega, seroquel dan lain-lain, maka ODGJ bukan cuma bisa satabil saja, tapi juga bisa mendukung produktifitas kembali. Sehingga ODGJ yang disiplin minum obat sudah tidak bisa dibedakan dengan orang lain pada umumnya. Dia bisa nyaman dengan dirinya, nyaman dengan keluarga, orang lain dan alam sekitar.

Dengan tersedianya obat2an yang baik maka ODGJ penampilannya bersih rapi, bisa disiplin. Tidak hanya bisa berfungsi maksimal di tempat tinggalnya saja, bahkan bisa bekerja sosial buat membantu sesama ciptaan Tuhan. Kondisi ODGJ yang baik memudahkan petugas kesehatan mengatur pasien gangguan jiwa yang sangat banyak di RS dengan lebih baik. Kebersihan RS Jiwa di Indonesia sudah makin banyak yang profesional, bersih, cantik taman2nya, bikin betah baik bagi ODGJ yang rawat inap atau rawat jalan, bahkan juga nyaman bagi pegunjung RS Jiwa.

Sejumlah RS Jiwa yang saya kunjungi, luar biasa indah. Halaman luas, ada bangunan bersejarah sisa masa kolonial belanda, ditambah bangunan baru yang emejing semua. Perawat dan dokter ramah2 dalam membantu pasien dan keluarga. Bahkan pasien nggak perlu ditunggu, keluarga tinggal istirahat di rumah. Pasien dipercayakan ke perawat dan dokter.

Pelayanan administrasi juga responnya sangat bagus, biaya ditanggung BPJS Kesehatan. Semua pelayanan transparan demi menjaga hak petugas kesehatan, pasien dan keluarga. Di masa depan, pemerintah akan terus meningkatkan kualitas layanan ini secara bertahap.

Karena itu jangan lagi kita ikut menyebarkan stigma terhadap RS Jiwa. RS Jiwa dibentuk untuk membantu keluarga dan pasien. Stigma terhadap RS Jiwa mengakibatkan tertundanya perawatan pada ODGJ yang dapat berakibat fatal dalam upaya pemulihannya.

Mari kita semua stop stigma terhadap RS Jiwa. RS Jiwa di Indonesia keren2 kok, bersih, rapi, indah dan pelayanannya profesional. Kalau konsul ke RS Jiwa tidak ada bedanya dengan konsultasi ke RS umum. Dirawat di RS Jiwa tidak perlu lama2, maksimal sebulan saja, selebihnya segera kembali ke keluarga dan komunitas. Komunitas yang mendukung pemulihan adalah yang disebut therapeutic community. Mari kita wujudkan komunitas dimana kita tinggal dan bekerja menjadi komunitas yang terapeutik. Komunitas yang sadar kesehatan jiwa. Bawa ODGJ berobat sedini mungkin ke puskesmas, RSUD atau RS Jiwa terdekat. Kemudian segera kembali ke komunitas sambil tetap berobat rutin, kemudian aktif kembali berkegiatan produktif. RS Jiwa adalah sistem pendukung buat ODGJ dan keluarga pada saat terjadi kondisi kegawat daruratan psikologis.

Salam sehat jiwa

Category: Stigma

Nggak benar kalau dibilang “usia mentalnya turun” secara umum. Tapi ada bagian fungsi otak yang memang bisa menurun.

Istilah “usia mental” itu rancu dan sering bikin salah paham. Yang lebih tepat: _penurunan fungsi kognitif_ pada sebagian orang dengan skizofrenia. Detailnya gini:

1. Skizofrenia bukan kayak anak kecil lagi

Orang dengan skizofrenia tetap orang dewasa. Mereka bisa punya wawasan, pengalaman hidup, nilai moral dewasa. Yang terganggu itu gejala psikotiknya: halusinasi, delusi, cara berpikir kacau.

Jadi kalau ada penderita skizofrenia usia 30 tahun yang perilakunya kayak anak 10 tahun, itu bukan “usia mentalnya 10 tahun”. Tapi kemungkinan:

- Gejala negatif: apatis, menarik diri, nggak rawat diri → kelihatan seperti regresi

- Gejala disorganisasi: bicara & perilaku kacau

- Efek samping obat atau episode psikotik aktif

2. Yang beneran bisa turun: fungsi kognitif

Ini namanya _cognitive impairment in schizophrenia_. Terjadi di 70-80% kasus. Yang kena:

Fungsi Contoh dampak

- Memori kerja Susah inget instruksi 3 langkah, lupa naruh barang

- Atensi Gampang terdistraksi, nggak bisa fokus nonton film

- Kecepatan proses Mikir & respon lebih lambat

- Fungsi eksekutif Susah bikin rencana, ngatur uang, problem solving

- Kognisi sosial Susah baca ekspresi, paham sarkasme

Rata-rata skor IQ penderita skizofrenia 8-10 poin lebih rendah dari populasi umum, dan 1 SD di bawah sebelum sakit. Tapi ini rata-rata statistik. Banyak juga yang IQ-nya tetap di atas rata-rata.

3. Penyebab penurunannya

1. Penyakitnya sendiri: Perubahan struktur & kimia otak. Volume hippocampus & korteks prefrontal bisa mengecil.

2. Psikosis yang nggak ditangani: Semakin lama episode psikotik tanpa obat, makin besar risiko kognitif rusak. Makanya deteksi dini penting.

3. Efek obat: Antipsikotik generasi lama dosis tinggi bisa bikin “tumpul”. Tapi obat baru lebih aman ke kognisi.

4. Gejala negatif & kurang stimulasi: Kalau isolasi di kamar terus, nggak sekolah/kerja, otaknya kurang latihan.

4. Penting: Ini bukan demensia & nggak semua kena

- Penurunan kognitif di skizofrenia biasanya stabil setelah 1-2 tahun awal. Nggak makin parah terus kayak Alzheimer.

- 20-25% penderita skizofrenia fungsi kognitifnya normal.

- Banyak yang kerja, kuliah, nikah, asal rutin berobat + rehabilitasi kognitif.

5. Darimana muncul anggapan “usia mental turun”?

Dulu tahun 1900-an skizofrenia disebut _dementia praecox_ = “demensia dini”. Karena dokter lihat pasien jadi apatis, nggak rawat diri, kayak kemunduran. Istilah itu udah ditinggalkan karena salah. Tapi stigma “kayak anak kecil” masih nempel.

Kesimpulan: Nggak ada “usia mental” yang resmi turun. Yang ada adalah penurunan di fungsi kognitif tertentu akibat penyakitnya. Orang dengan skizofrenia tetap dewasa, tetap punya hak & martabat dewasa, dan bisa pulih fungsinya dengan pengobatan + terapi.

Kalau kamu khawatir buat diri sendiri atau orang terdekat, langkah paling bener: ajak ke psikiater. Semakin cepat diobati, semakin kecil risiko penurunan kognitif jangka panjang

Gangguan jiwa banyak macamnya, tidak bisa dibahas satu per satu di sini. Konsultasikan pada dokter spesialis kedokteran jiwa dan psikolog klinis untuk jawaban yang lebih lengkap.

Beberapa gangguan jiwa seperti gangguan kecemasan dan gangguan stres pasca-trauma (PTSD) dapat sembuh total melalui penanganan yang tepat, sementara beberapa jenis lain seperti gangguan bipolar dan skizofrenia dapat dikelola dengan baik sehingga penderitanya bisa hidup normal kembali melalui pengobatan dan terapi yang berkelanjutan. Tidak ada jenis gangguan jiwa yang hilang sepenuhnya tanpa perawatan, dan penting untuk mendapatkan bantuan profesional untuk mengelola gejala.

Gangguan yang dapat sembuh total dengan perawatan

  • Gangguan Kecemasan: Dengan terapi, penderita dapat mengelola kecemasan berlebih hingga kembali ke kehidupan normal.
  • Gangguan Stres Pasca-Trauma (PTSD): Setelah mengalami peristiwa traumatis, penderitanya dapat pulih dan tidak lagi mengalami gejala jika menjalani penanganan yang tepat.
  • Gangguan Depresi berat: Depresi dapat diobati dengan baik dan penderitanya dapat sembuh, terutama jika mendapatkan dukungan profesional lebih awal.
  • Psikosis: Meskipun merupakan gangguan serius, psikosis dapat disembuhkan secara total dengan pengobatan dan psikoterapi yang cukup lama.

Gangguan yang bisa dikelola dengan baik

  • Gangguan Bipolar: Gangguan ini menyebabkan perubahan suasana hati ekstrem, namun dengan pengobatan dan terapi yang konsisten, penderitanya dapat menjalani kehidupan yang stabil dan produktif.
  • Skizofrenia: Meskipun merupakan kondisi kronis, gejala skizofrenia dapat dikontrol dengan baik melalui kombinasi obat-obatan dan terapi sehingga penderitanya dapat berinteraksi sosial dan bekerja secara normal.
  • Gangguan Obsesif-Kompulsif (OCD): Gejala OCD dapat sangat memengaruhi kehidupan, namun dengan penanganan yang tepat, penderitanya dapat mencapai perbaikan yang signifikan.

Mengapa penting untuk mencari bantuan profesional?

  • Penyembuhan Total: Beberapa gangguan jiwa memang dapat disembuhkan sepenuhnya dengan penanganan yang tepat.
  • Manajemen Gejala: Untuk gangguan yang bersifat kronis, pengobatan dan terapi teratur sangat penting untuk mengelola gejala dan mencegahnya memburuk.
  • Pencegahan: Tanpa perawatan, gejala gangguan jiwa bisa memburuk dan mengganggu aktivitas sehari-hari secara signifikan


    Sumber: Gemini AI.

Itu pemahaman yang salah kaprah. Obat skizofrenia itu bekerja dengan memblok atau menurunkan kadar dopamin di otak. Oleh karena itu bila orang yang tidak mengalami skizofrenia minum obat anti psikotik maka dia nggak akan mengalami skizofrenia. Minum obat anti psikotik tidak mengakibatkan mabuk atau ngefly. Bahkan bila diminum cukup banyak. Yang terjadi adalah orang tersebut akan tidur nyenyak beberapa hari. Dan bisa mengalami efek ekstrapiramidal sindrom yaitu pseudo parkinsonisme misalnya gangguan gerak antara lain kedutan atau twitching(gerakan halus dan tiba-tiba pada otot), restless atau gelisah, tremor, badan kaku, dan tics. Mengalami kenaikan berat badan. Tardive dyskinesia atau gerakan di luar kontrol. Mulut kering, pandangan kabur, menurunnya gairah seksual dll.

Sementara itu, obat-obatan yang dapat memicu kerusakan otak yang mengakibatkan gejala psikotik antara lain adalah obat-obat yang merangsang diproduksinya dopamin dalam jumlah besar, misalnya zat-zat adiktif golongan narkotika. Ketika zat2 tersebut dikonsumsi dalam jumlah besar maka orang tersebut akan mengalami halusinasi dan gejala lainnya. Apabila digunakan dalam jangka waktu yang lama maka akan meningkatkan resiko kerusakan otak yang menginduksi gejala psikotik

Jangan marah2 dulu. Jadilah konsumen kesehatan jiwa yang cerdas dan berpengetahuan. Berikut ini sejumlah alasannya:

1. Gangguan Jiwa umumnya terbentuknya itu lama. Kata Dr Nurmiati Amir SpKJ, gangguan skizofrenia itu diduga sudah terbentuk kelainan di otak pada masa di dalam janin. Kemudian berkembang perlahan kerusakannya hingga terjadi kerusakan progresif di usia remaja akhir menuju usia dewasa. Jadi masalah kesehatan jiwa itu umumnya akumulasi proses bertahun-tahun. Karena itu tidak bisa mengharapkan sembuh instan dan total. Pemulihan gangguan jiwa prosesnya bertahun2. Seseorang harus hidup dan beradaptasi dengan gangguan jiwa yang dialaminya.

2. Berdasarkan pengalaman para ahli kesehatan jiwa baik dokter jiwa (psikiater), psikolog, perawat jiwa (perawat psikiatri), pekerja sosial dan lain2, meredakan gejala gangguan jiwa dapat dilakukan dengan pengobatan dalam waktu yang relatif singkat, dengan pengobatan 4 sampai 6 minggu maka gejala gangguan jiwa dapat reda sehingga kualitas hidup pasien dapat membaik. Namun proses pemulihan yang utama bukanlah di bangsal rumah sakit, melainkan berada di tengah keluarga dan masyarakat. Di tengah komunitas dimana pasien lahir, tumbuh dewasa itulah dia belajar mengatasi masalah kehidupan yang nyata. Di situlah proses menuju pulih akan terjadi.

3. Pengasingan, pengucilan adalah mitos yang salah kaprah. Masyarakat umum masih meyakini bahwa Orang Dengan Gangguan Jiwa tempat terbaiknya adalah di panti seumur hidup. Atau dibawa ke pesantren agar belajar agama secara intensif agar dicapai penyembuhan karena kuasa Tuhan. Pada kenyataannya sejarah penanganan gangguan jiwa di seluruh dunia menyatakan sebaliknya. Setelah ditemukannya obat2an antipsikotik maka ribuan pasien rumah sakit jiwa di berbagai negara dapat pulih dan pulang ke rumah untuk berkumpul lagi dengan keluarga dan komunitasnya masing2. Orang dengan Skizofrenia, bipolar, depresi dll dapat pulih dan mandiri. Sangat tidak perlu dirawat lama2 di RS atau di panti2.

4. Di rumah sakit kegiatannya apa sih? Yang utama kan pengawasan minum obat, tidur(istirahat) dan kegiatan tambahan lain. Kalau cuma gitu doang kan bisa dilakukan dengan rawat jalan aja di rumah. Lebih nyaman di rumah

5. Biaya rawat inap di RS Jiwa sebulan itu kalau dari info yg saya dapat saat rapat dengan kementerian kesehatan dan bpjs dulu, diperkirakan sekitar 15 juta sebulan. Itu ditanggung full oleh BPJS kesehatan. Sayang banget kalau tersedot utk rawat inap saja. Biarkan rawat inap itu untuk mereka yang benar2 membutuhkan karena menyelamatkan nyawa. Bagi yang masih bisa rawat jalan pertahankan. Mendingan biaya itu dipake buat membeli obat yg bagus2 agar ODGJ cepat pulih. Bisa buat menolong lebih banyak orang.

6. Tanggung jawab pemulihan bukan cuma pada ODGJ. Ada keluarga yg bilang pada ODGJ, kalau mau pulih semuanya tergantung diri kamu sendiri, mau pulih apa enggak tergantung kemauan kamu. Tidak semudah itu ferguso. Sadarilah bahwa pulih adalah tanggung jawab seluruh keluarga. Kita tau bahwa ada ortu yg jadi stressor, ortu toxic, ada saudara yg gak peduli, bahkan ada saudara kandung yg sikapnya jadi merendahkan setelah tau saudaranya mengalami gangguan jiwa. Banyak sekali macamnya keluarga yg toksik dan nggak mau berubah. Bahkan ada yang mengabaikan. Sebaik apapun apa yg diberikan petugas kesehatan saat rawat inap, tapi setelah pulang keluarganya tidak mau berubah ya akan sia2. Jangan cuma menuntut ODGJ berubah dan pulih, kita sebagai keluarga juga harus introspeksi diri apa kita juga bagian dari masalah. Kita sebagai keluarga adalah sistem pendukung yang juga perlu berubah jadi lebih baik sehingga menjadi lahan subur agar benih2 pemulihan bisa bersemi dan tumbuh.

7. Tujuan utama pemulihan adalah memandirikan dan integrasi(menyatukan) kembali ODGJ kepada keluarga ke tengah masyarakat. ODGJ gak akan bisa mandiri di ruangan vakum seperti RS dan Panti yang serba mudah. Sementara dunia luar terus maju. Keluarga juga gak bisa jadi caregiver yg baik kalau ODGJnya yg ngurus perawat di RS atau petugas panti. Kita bersama2 belajar dong.

8. Rawat inap boleh banget bila memang diperlukan. Tapi jangan sebentar2 ODGJ dibawa rawat inap. ODGJ juga sama kayak orang lain, bisa emosi dan marah. Tapi jangan lagi emosi dikit langsung dianggap kambuh dan rawat inap. Rawat inap adalah layanan kesehatan jiwa yang sangat penting dan membantu ODGJ dan keluarga. Maksimalkan pendampingan minum obat dan kegiatan terapeutik di rumah, rawat inap adalah upaya terakhir.

Jangan lama2 di RS segera rawat jalan dan melanjutkan proses hidup agar nggak ketinggalan dari teman2 sebaya!

Semoga bermanfaat.

Category: Stigma

Kebanyakan mikir hal magis dapat menjadi gejala dari beberapa kondisi, termasuk:

1. Superstisi/takhyul: Kepercayaan pada hal-hal yang tidak dapat dijelaskan secara ilmiah atau logis.

2. Gangguan Obsesif-Kompulsif (OCD): Pikiran-pikiran yang tidak diinginkan dan berulang-ulang tentang hal-hal magis atau takhayul.

3. Gangguan Kecemasan: Kecemasan yang berlebihan dapat menyebabkan seseorang mencari penjelasan magis untuk kejadian-kejadian yang tidak dapat dijelaskan.

4. Skizofrenia: Dalam beberapa kasus, pikiran magis dapat menjadi gejala dari skizofrenia, terutama jika disertai dengan halusinasi atau delusi.

5. Kultur atau kepercayaan: Beberapa budaya atau kepercayaan memiliki tradisi atau ritual magis yang dianggap normal dalam konteks tersebut.

6. Kegagalan dalam perkembangan kepribadian: Kegagalan perkembangan kedewasaan ditandai dengan kesulitan individu dalam menyelesaikan tugas-tugas perkembangan di masa dewasa, seperti masalah karir, identitas, hubungan, serta kesulitan mengelola emosi dan tanggung jawab. Hal ini bisa disebabkan oleh faktor internal seperti kurangnya motivasi atau kepercayaan diri, dan faktor eksternal seperti kurangnya bimbingan, kesehatan yang buruk, atau tekanan sosial. Orang seperti ini tidak mampu mengatasi permasalahan dirinya kemudian mudah menyalahkan orang lain, menyalahkan keadaan, menyalahkan setan, iblis atau jin, atau menyalahkan takdir Tuhan.

Jika pikiran magis mengganggu kehidupan sehari-hari atau menyebabkan kecemasan, sebaiknya konsultasikan dengan profesional kesehatan mental untuk evaluasi lebih lanjut.

Dalam ranah masalah kejiwaan, salah satu diagnosis yang cirinya seperti itu adalah gangguan kepribadian skizotipal.

Gangguan Skizotipal adalah suatu kondisi kepribadian yang ditandai dengan pola perilaku dan pikiran yang tidak biasa, serta kesulitan dalam berinteraksi sosial. Orang dengan Gangguan Skizotipal mungkin mengalami gejala seperti:

1. Pikiran magis: Kepercayaan pada hal-hal yang tidak dapat dijelaskan secara ilmiah atau logis.

2. Kesulitan sosial: Kesulitan dalam berinteraksi sosial, memahami norma sosial, dan menjalin hubungan yang dekat.

3. Perilaku eksentrik: Perilaku yang tidak biasa atau tidak sesuai dengan norma sosial.

4. Keterampilan sosial yang terbatas: Kesulitan dalam memahami dan menggunakan keterampilan sosial yang efektif.

Gangguan Skizotipal dapat mempengaruhi kualitas hidup seseorang dan memerlukan penanganan yang tepat. Pengobatan dapat meliputi terapi, seperti terapi kognitif-behavioral (CBT), dan dukungan sosial.

Pertanyaan ini dijawab oleh dokter Lahargo Kembaren SpKj:

Hai, Terima kasih sudah mau bercerita tentang apa yg kamu alami dan rasakan ya. Pertama tama salut untuk kamu yang sudah mau datang ke profesional untuk mendapatkan pertolongan dengan gejala yg kamu rasakan akhir akhir ini, ini pasti nggak mudah dan butuh perjuangan ya. Banyak orang lain yang terlambat melakukannya sehingga akhirnya terlambat juga mendapatkan pertolongan.

Well... mendengar diagnosis apapun dari dokter termasuk diagnosis F20 (skizofrenia) pasti mengejutkan ya. Jadi kalau kamu merasa sedih, takut, cemas dan bingung itu wajar, alamiah dan manusiawi.

Yang perlu kamu tahu adalah bahwa diagnosis skizofrenia itu bukanlah akhir segalanya, bukan label yang menetap terus dalam hidupmu TAPI suatu petunjuk dan arah bagaimana kamu menjalani proses pemulihan dari gejala yang mengganggumu akhir akhir ini. Diagnosis itu kayak GPS/Google Maps yang mengarahkanmu pada tujuan akhir yang ingin dituju dengan jalur yang paling efektif dan efisien. Daripada muter muter coba sana coba sini yang nggak jelas kan mendingan dikasih tahu rutenya yang sudah terbukti. Yup... bener sudah terbukti bahwa saat orang dengan skizofrenia menjalani proses terapi dan pemulihan maka mereka akan pulih dari gejala, stabil dan kembali berfungsi serta produktif. Jadi ini bukan akhir season hidup kamu tapi sebuah chapter seru dengan berbagai plot twistnya yang perlu dijalani dengan semangat, positif dan optimis. Banyak sekali testimoni dan pengalaman hidup orang dengan skizofrenia yang bisa kembali sekolah, kuliah, bekerja, menghasilkan, berkeluarga, memiliki anak dan meraih mimpi dan cita citanya. Kalau mereka bisa, kamupun tentunya bisa.

Nah sekarang yang penting, ayo kenali penyakit ini dan langkah-langkah pemulihannya.

1. Fase Tenangkan Gejala

- Tujuan: membuat kamu lebih nyaman dan tenang

- Cara: minum obat untuk menenangkan pikiran, memperbaiki tidur, dan mengurangi halusinasi, waham/delusi atau pikiran yang mengganggu.

2. Fase Menstabilkan Kondisi

- Tujuan: memastikan gejala tidak muncul lagi.

- Cara: dosis obat disesuaikan dan tetap diminum teratur, mulai bangun rutinitas, belajar cara mengelola stres.

3. Fase Pemulihan Jangka Panjang

- Tujuan: kembali berfungsi seperti biasa.

- Cara: aktivitas harian perlahan kembali (sekolah, kuliah, kerja, hobi), dukungan keluarga, terapi, rehabilitasi psikososial untuk memulihkan fungsi, menjaga pola hidup sehat

4. Fase Mencegah Kambuh

- Tujuan: tetap stabil, tidak kambuh/relaps

- Cara: minum obat teratur/ suntik jangka panjang, rutin kontrol, kenali tanda-tanda awal kalau kondisi mulai muncul gejala, tetap jalankan pola hidup sehat dan aktivitas harian yang produktif.

Jadi... nggak usah sedih lagi ya. Oh ya kamu juga nggak sendirian kok, ada kami profesional kesehatan jiwa yang siap membantumu, psikiater, perawat jiwa, psikolog, pekerja sosial, dokter umum terlatih, konselor dan terapis okupasi, kami semua mitramu, sahabatmu menjalani proses pemulihanmu ini.

Pesan terakhir nih, jangan lupa gabung juga dengan support group supaya kamu juga melihat banyak orang lain yg juga sedang berjuang bersama, mendengar dan menyaksikan serta belajar pengalaman dari mereka yg sudah lebih dulu menjalaninya.

Selama Tuhan masih ada, matahari masih bersinar dan donat masih bulat... BERJUANG terus untuk kesehatan jiwamu ya !

Salam SEJI-GO

(Sehat Jiwa Bersama Lahargo)

dr.Lahargo Kembaren, SpKJ

(Psikiater, Kepala Instalasi Rehabilitasi Psikososial RS.Jiwa dr.H.Marzoeki Mahdi Bogor, Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia)