Categories:
Apa itu Skizofrenia
Mengenai Pemulihan
Kesulitan terbesar dalam pemulihan skizofrenia biasanya terkait dengan beberapa faktor, antara lain:
- Kepatuhan pengobatan: Pasien seringkali tidak patuh dengan pengobatan, yang dapat memperburuk gejala.
- Stigma sosial: Diskriminasi dan stigma dari masyarakat dapat membuat pasien merasa terisolasi. Stigma bahwa skizofrenia disebabkan oleh guna-guna, santet, sihir, kurang iman dll menghambat pasien untuk mendapatkan pengobatan medis. Keterlambatan berobat pasien skizofrenia di Indonesia masih sangat tinggi jumlahnya. Sehingga gejala sudah berat saat akhirnya berobat ke dokter.
- Dukungan keluarga dan lingkungan: Kurangnya dukungan dapat menghambat proses pemulihan.
- Gejala residu: Beberapa gejala dapat tetap ada meskipun sudah diobati.
- Pengelolaan stres: Stres dapat memicu kekambuhan, jadi pengelolaan stres sangat penting.
- Akses ke layanan kesehatan: jarak yg jauh ke puskesmas, RSUD atau RS Jiwa menjadi kendala. Baik kendala secara geografis. Maupun kendala biaya.
- Ketersediaan obat di layanan kesehatan: pasien skizofrenia diharapkan patuh minum obat, jangan lepas obat tanpa seijin dokter. Namun kenyataan di lapangan masih banyak layanan kesehatan yang memberikan obat kurang dari 30 hari. Atau ada jenis obat yang tidak tersedia, sehingga keluarga dan pasien harus beli obat di apotik luar. Resiko kekambuhan menjadi beban para pasien dan keluarga. Dikuatirkan mereka akan merasa tidak ada gunanya berobat medis.
- Tidak ada lapangan kerja atau peluang wirausaha mandiri: sudah banyak pasien skizofrenia yang pulih tapi tidak bekerja. Banyak yang menganggur seumur hidup menjadi beban keluarga. Meskipun gejala skizofrenia juga berkontribusi membuat pasien sulit memasuki dunia kerja, namun hal ini tidak menjadi alasan bagi pemerintah untuk berupaya memberikan peluang agar mereka dapat bekerja, dapat hidup mandiri. Bukan seperti sekarang, pengobatan baru sampai mampu mengelola gejala, belum mampu membuktikan bahwa orang dengan skizofrenia bisa berfungsi dan hidup mandiri.
Terapis atau dokter dan semua pemangku kepentingan harus bekerja sama dengan pasien dan keluarga untuk mengatasi tantangan-tantangan ini. ![]()