Category: Stigma

Tidak benar. Itu salah satu kesalahan pahaman masyarakat awam terhadap gangguan skizofrenia. Dulu gangguan jiwa merupakan permasalahan yang dianggap aib sehingga orang enggan membahas secara terbuka. Sehingga banyak mitos yang dikaitkan dengan gangguan skizofrenia. Umumnya dikaitkan dengan hal-hal yang gaib dan supranatural. Karena secara fisik orang yang mengalami gangguan jiwa tubuhnya lengkap dan sehat, namun berbicara dan bersikap aneh.

Salah satu prasangka awam terhadap skizofrenia adalah karena ngelmu gaib tanpa ada gurunya. Hal ini sangat diyakini oleh masyarakat. Kadangkala ketika dibawa berobat ke dukun atau tokoh agama, dikatakan bahwa orang yang gangguan jiwa ini sedang menanggung suatu ilmu yang berat, sehingga pemikiran nya jadi linglung. Tapi nanti setelah ia sembuh, ia akan berbakat menjadi dukun atau orang pintar.

Pada kenyataannya tidak demikian. Gangguan skizofrenia adalah gangguan otak yang dapat diobati sampai pulih. Orang yang mengalami nya dapat hidup mandiri dan kualitas hidupnya baik kembali.

Lalu apa sebabnya orang menyimpulkan bahwa penyakit ini karena ngelmu gaib? Gangguan skizofrenia tidak muncul secara tiba-tiba. Ada hipotesis yang mengatakan kemungkinan gangguan otak sudah terjadi di level janin, ada resiko genetik, dan kontribusi faktor lingkungan keluarga, masyarakat, budaya dan lainnya.

Besar kemungkinan ketika seseorang tertarik pada hal-hal gaib, sesungguhnya sudah mulai terjadi gejala-gejala awal gangguan kejiwaan pada dirinya. Namun adanya faktor budaya di masyarakat yang meyakini hal-hal gaib, membuat nya mencari solusi melalui cara yang tidak rasional. Orang yang sehat jiwa tentu mengutamakan logika rasional untuk menyelesaikan masalah kehidupan nya, setelah berusaha barulah berdoa. Namun pada orang yang sudah memiliki gejala skizofrenia, justru upaya yang tidak rasional yang lebih banyak dilakukan. Ketika kemudian semakin berat gejalanya, maka minatnya terhadap hal gaib semakin besar, dan pada akhirnya putus dari realitas. Orang yang demen banget mikirin hal-hal gaib kemungkinan mengalami gangguan kepribadian skizotipal.

Demikian juga pada orang dengan skizofrenia yang mengalami waham keagamaan. Minatnya terhadap hal-hal terkait agama menjadi sangat ekstrim, hingga ia meninggalkan kehidupan sosial yang sewajarnya.

Artinya gangguan skizofrenia tidak disebabkan oleh ngelmu tanpa guru. Tapi ngelmu tanpa guru itu sebenarnya bagian dari gejala awal terbentuknya gangguan jiwa berat. Demikian juga meningkatnya minat belajar agama yang berlebihan secara ekstrim belum tentu tanda meningkatnya spiritualitas seseorang, bisa juga merupakan ciri awal munculnya gangguan jiwa berat.

Apakah gangguan skizofrenia dapat disebabkan dari belajar ilmu gaib tanpa ada gurunya, sehingga tersesat dan akibatnya jadi gangguan jiwa?

Category: Stigma

Tidak benar. Itu salah satu kesalahan pahaman masyarakat awam terhadap gangguan skizofrenia. Dulu gangguan jiwa merupakan permasalahan yang dianggap aib sehingga orang enggan membahas secara terbuka. Sehingga banyak mitos yang dikaitkan dengan gangguan skizofrenia. Umumnya dikaitkan dengan hal-hal yang gaib dan supranatural. Karena secara fisik orang yang mengalami gangguan jiwa tubuhnya lengkap dan sehat, namun berbicara dan bersikap aneh.

Salah satu prasangka awam terhadap skizofrenia adalah karena ngelmu gaib tanpa ada gurunya. Hal ini sangat diyakini oleh masyarakat. Kadangkala ketika dibawa berobat ke dukun atau tokoh agama, dikatakan bahwa orang yang gangguan jiwa ini sedang menanggung suatu ilmu yang berat, sehingga pemikiran nya jadi linglung. Tapi nanti setelah ia sembuh, ia akan berbakat menjadi dukun atau orang pintar.

Pada kenyataannya tidak demikian. Gangguan skizofrenia adalah gangguan otak yang dapat diobati sampai pulih. Orang yang mengalami nya dapat hidup mandiri dan kualitas hidupnya baik kembali.

Lalu apa sebabnya orang menyimpulkan bahwa penyakit ini karena ngelmu gaib? Gangguan skizofrenia tidak muncul secara tiba-tiba. Ada hipotesis yang mengatakan kemungkinan gangguan otak sudah terjadi di level janin, ada resiko genetik, dan kontribusi faktor lingkungan keluarga, masyarakat, budaya dan lainnya.

Besar kemungkinan ketika seseorang tertarik pada hal-hal gaib, sesungguhnya sudah mulai terjadi gejala-gejala awal gangguan kejiwaan pada dirinya. Namun adanya faktor budaya di masyarakat yang meyakini hal-hal gaib, membuat nya mencari solusi melalui cara yang tidak rasional. Orang yang sehat jiwa tentu mengutamakan logika rasional untuk menyelesaikan masalah kehidupan nya, setelah berusaha barulah berdoa. Namun pada orang yang sudah memiliki gejala skizofrenia, justru upaya yang tidak rasional yang lebih banyak dilakukan. Ketika kemudian semakin berat gejalanya, maka minatnya terhadap hal gaib semakin besar, dan pada akhirnya putus dari realitas. Orang yang demen banget mikirin hal-hal gaib kemungkinan mengalami gangguan kepribadian skizotipal.

Demikian juga pada orang dengan skizofrenia yang mengalami waham keagamaan. Minatnya terhadap hal-hal terkait agama menjadi sangat ekstrim, hingga ia meninggalkan kehidupan sosial yang sewajarnya.

Artinya gangguan skizofrenia tidak disebabkan oleh ngelmu tanpa guru. Tapi ngelmu tanpa guru itu sebenarnya bagian dari gejala awal terbentuknya gangguan jiwa berat. Demikian juga meningkatnya minat belajar agama yang berlebihan secara ekstrim belum tentu tanda meningkatnya spiritualitas seseorang, bisa juga merupakan ciri awal munculnya gangguan jiwa berat.