KPSIlogo1
Menghadapi Erotomania: Saya Pernah Mengalaminya

Iryani Susila Ningsih

Saya pernah mengalami erotomania. Saat mengalaminya, keyakinan dan perasaan yang muncul terasa sangat nyata bagi saya. Namun, seiring mendapatkan pengobatan dan pendampingan psikiater, saya belajar bahwa apa yang terasa sangat nyata belum tentu sesuai dengan kenyataan.

Secara klinis, erotomania biasanya merujuk pada keyakinan yang menetap bahwa orang lain mencintai dirinya, meskipun bukti objektif tidak mendukung keyakinan tersebut. Erotomania dapat muncul sebagai bagian dari gangguan waham tipe erotomanik maupun dalam konteks kondisi psikiatri lain. Dalam kasus saya, saya mengalami waham akibat penyakit skizofrenia paranoid.

Sekarang kondisi saya jauh lebih terkendali dengan pengobatan yang saya jalani. Dari pengalaman ini, saya belajar beberapa hal:

❌Jangan menghadapi gejala sendirian. Mencari bantuan psikiater adalah langkah penting.

✔️Minum obat sesuai resep dan jangan menghentikannya sendiri tanpa berkonsultasi dengan dokter.

✔️Belajar mengenali pikiran atau keyakinan yang merupakan bagian dari gejala.

✔️Kurangi kebiasaan mencari-cari tanda, kode, atau makna tertentu dari perilaku orang yang menjadi objek keyakinan tersebut.

✔️Kurangi memantau media sosialnya jika hal itu justru membuat pikiran semakin kuat.

✔️Alihkan perhatian pada kehidupan nyata: keluarga, teman, pekerjaan, kegiatan kreatif, olahraga, dan hal-hal yang membuat hidup terasa bermakna.

✔️Beri waktu pada diri sendiri. Pemulihan tidak selalu berlangsung cepat, tetapi kondisi dapat menjadi jauh lebih baik dengan penanganan yang tepat.

Bagi saya, salah satu pelajaran terpenting adalah:

Perasaan yang sangat kuat tidak selalu berarti kesimpulan kita benar.

Mengalami erotomania bukan berarti seseorang bodoh atau sengaja mencari perhatian. Itu adalah pengalaman yang bisa terasa sangat nyata dan melelahkan bagi orang yang mengalaminya.

Saya membagikan pengalaman ini bukan untuk mendiagnosis orang lain, tetapi untuk mengatakan bahwa kondisi bisa membaik dan kita tidak harus menghadapinya sendirian.

Jika mengalami keyakinan seperti ini dan merasa sulit mengendalikannya, sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan jiwa.