Invisible disability adalah suatu kondisi di mana seseorang memiliki ketidakmampuan atau keterbatasan fisik atau mental yang tidak terlihat secara fisik. Artinya, orang tersebut mungkin tidak memiliki tanda-tanda fisik yang jelas, seperti kursi roda atau tongkat, namun mereka masih mengalami kesulitan atau keterbatasan dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
# Contoh Invisible Disability
1. Gangguan mental: Depresi, kecemasan, bipolar, skizofrenia, dan lain-lain.
2. Gangguan neurologis: Epilepsi, multiple sclerosis, Parkinson, dan lain-lain.
3. Gangguan kronis: Diabetes, hipertensi, asma, dan lain-lain.
4. Gangguan autoimun: Lupus, rheumatoid arthritis, dan lain-lain.
5. Gangguan sensorik: Gangguan pendengaran, gangguan penglihatan, dan lain-lain.
# Tanda-Tanda Invisible Disability
1. Kesulitan dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
2. Kesulitan dalam mengelola emosi.
3. Kesulitan dalam berinteraksi dengan orang lain.
4. Kesulitan dalam mengelola stres.
5. Kesulitan dalam melakukan pekerjaan atau aktivitas yang memerlukan konsentrasi.
# Pengaruh Invisible Disability
1. Stigma dan diskriminasi: Orang dengan invisible disability sering kali mengalami stigma dan diskriminasi karena kondisi mereka tidak terlihat secara fisik. Bahkan dalam komunitas disabilitas lain dianggap kurang layak masuk dalam kelompok disabilitas karena secara fisik terlihat lengkap.
2. Kesulitan dalam mendapatkan dukungan: Orang dengan invisible disability sering kali kesulitan dalam mendapatkan dukungan dari keluarga, teman, dan masyarakat karena kondisi mereka tidak terlihat secara fisik.
3. Kesulitan dalam melakukan aktivitas sehari-hari: Orang dengan invisible disability sering kali kesulitan dalam melakukan aktivitas sehari-hari karena kondisi mereka.
# Cara Mengatasi Invisible Disability
1. Mencari dukungan: Mencari dukungan dari keluarga, teman, dan masyarakat(Komunitas)
2. Mengelola stres: Mengelola stres dengan melakukan aktivitas yang menyenangkan dan relaks.
3. Mengelola emosi: Mengelola emosi dengan melakukan aktivitas yang menyenangkan dan relaks.
4. Mencari bantuan profesional: Mencari bantuan profesional dari dokter, psikolog, atau terapis.
Sumber:
1. World Health Organization (WHO)
2. National Institute of Mental Health (NIMH)
3. American Psychological Association (APA)
4. Kementerian Kesehatan RI
5. Journal of Clinical Psychology.